‘Nongki’ Asik Berasa di Luar Negeri

DIPALU.COM – Istilah ‘nongki’ seperti tak asing di pendengaran remaja saat ini. Mereka sering menggunakan istilah ini untuk menyebutkan kegiatan berkumpul di suatu tempat. ‘Nongki’ atau sama halnya nongkrong ini, sudah menjadi kebiasaan remaja pada umumnya, khususnya di kota Palu. Maka tak heran tempat ‘nongki’ hits selalu menjadi incaran.

Salah satu tempat ‘nongki’ hits Kota Palu yang belum lama viral di media sosial baik Facebook maupun Instagram, yakni Taman Ria. Berasa berada di luar negeri, para pengelola kafe di Taman Ria jalan Cumi-cumi, Kota Palu, membuat miniatur-miniatur bangunan yang termasuk dalam keajaiban dunia yang notabenenya berada di luar negeri dengan memanfaatkan lahan reklamasi.

Seperti pemandangan yang ada di kafe Aries Parlente. Pemilik kafe membuat miniatur menara Eiffel yang ada di Paris, Perancis dengan kayu bercat warna-warni dihiasi lampu-lampu yang mengikuti bentuk menara tersebut. Sehingga, jika dilihat di malam hari, miniatur menara tersebut memancarkan cahaya berwarna merah dan putih.

Menurut pemilik kafe, Lia Dg Ehro mengatakan ide awal membuat miniatur tersebut karena sempat kalah saing dengan kafe-kafe yang ada di Anjungan Pantai Talise Palu.

“Nah, kita berfikir bagaimana membuat tempat ini supaya ramai lagi. Akhirnya kita membuat miniatur bangunan-bangunan dari belahan dunia sesuai dengan budget masing-masing,” ujarnya saat ditemui DIPALU.COM.

Ia mengatakan setelah perubahan wajah kafe di Taman Ria tersebut, tingkat pengunjung tambah ramai. Ibaratnya, katanya dari 10 orang berkali lipat menjadi 100 kali lipat.

Karena pengunjung makin ramai, menurutnya respon masyarakat sangat positif. Meskipun, katanya ada beberapa masyarakat yang memberikan saran penambahan fasilitas. “Namun, kita tidak bisa berbuat banyak karena hanya memiliki lahan yang sempit,” katanya.

Ia berharap kepada pemerintah agar kafe-kafe yang ada di Taman Ria yang notabenenya termasuk usaha kecil, dapat diberi kesempatan bagaimana bagusnya kedepannya.

“Kita ingin kerja sama beriringan dengan pemerintah. Kita orangnya mau diatur dalam arti pemerintah juga lihat Sikon (situasi dan kondisi, red). Kita inikan usaha juga bukan untuk pribadi. Kita punya karyawan,” tutupnya.

Sama halnya Sarni, pemilik kafe Anugrah, yang membangun miniatur menara miring Pisa di Italia sekaligus menara jam di kafenya. Ia mengklaim dialah yang pertama membuat miniatur-miniatur tersebut. “Buat miniatur ini hasil pemikiran dan ide sendiri. Malah tante yang pertama buat seperti ini,” katanya.

Ia juga merasakan adanya peningkatan pengunjung setelah dibuatnya miniatur-miniatur tersebut dan responnya juga positif. Bahkan, katanya respon pemerintah juga bagus.

“Cuma dorang (mereka, red) pemerintah bilang tambah kasih bagus lagi. Teada (tidak ada, red) respon dana dari dorang,” ungkapnya.

Ia berharap kepada pemerintah agar mereka jangan sampai digusur. Meskipun awalnya, katanya ada rencana pelebaran jalan. “Tapi tidak tahu bagaimana kedepannya,” tutupnya.

Salah satu pengunjung, Miftahul Jannah mengatakan dibuatnya miniatur tersebut, bagus. Meskipun, katanya hanya sekedar miniatur, setidaknya dapat dijadikan tempat untuk hiburan.

“Biar pun itu tidak seperti aslinya yang kayak di negaranya dant,” ujarnya kepada DIPALU.COM. Ia berharap bisa dibuat lagi miniatur-miniatur seperti yang ada di negara lain.

Sedangkan pengunjung lainnya, Fadillah berharap kepada pemilik kafe lebih memperbanyak bangunan ciri khas dalam negeri di bandingkan luar negeri. “Sekaligus dipercantik lagi di bagian depan kafe. Kalau bisa dibuatkan parkiran khusus dan yang paling penting kebersihannya dijaga. Jangan buang sampah ke laut,” katanya.

Menurut salah satu mahasiswa di kota Palu yang juga ‘nongki’ di kafe tersebut, Riska mengatakan ini hal kreatif dari para pemilik yang dapat membuat menarik perhatian pelanggan. Ia berharap dengan adanya miniatur-miniatur tersebut, dapat menarik minat masyarakat dari luar Kota Palu. (IIM)